Mulia Bagi Allah, Damai Bagi Manusia

Written by Belinda on . Posted in Renungan

"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya"
(Lukas 2:14)

"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai."
(Yesaya 9:6)

Hari-hari ini, ada pertanyaan yang muncul dalam perjalanan hidup manusia, masih adakah peace atau dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan lebih lengkap dan bagus adalah damai sejahtera? Bukan hanya damai tapi juga harus ada sejahtera. Pertanyaan ini muncul dan kita tidak bisa menyalahkan orang yang bertanya pertanyaan ini. Dunia dan alam ini sudah tidak menjadi nyaman untuk didiami.

Natal merupakan sebuah peristiwa yang harus menyerukan sebuah teriakkan damai sejahtera bagi dunia dan seluruh umat manusia. Natal bukan sebuah rutinitas perayaan, yang di dalamnya umat 'bersuka' hanya karena menyaksikan atraksi-atraksi Natal dan pesta Natal; kalau hal ini yang terjadi, maka Natal kehilangan makna yang sesungguhnya. Natal juga bukan hanya sebuah 'kesukaan' yang hadir di bulan Desember saja; melainkan harus menjadi kesukaan dalam hidup yang di kehendaki oleh Tuhan.

Mengapa umat manusia sulit menemukan damai sejahtera di dunia hari ini, maka ada beberapa hal yang menyebabkannya, yaitu:

  1. Kemiskinan
    Ini bukan sesuatu yang baru, ini sebuah penyakit akut yang terus-menerus berulang. Orde baru memang telah berusaha untuk membebaskan bangsa kita dari kemiskinan. Berbagai sarana fisik dibangun, namun kenyataannya kemiskinan tetap menjadi sebuah tontonan umum. Orde reformasi melakukan koreksi atas kesalahan orde baru itu. Demokrasi dibangun, tetapi dibutuhkan kematangan-kematangan di dalam menjalankannya. Pemerintahan SBY mengklaim pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3%, namun kemiskinan tetap dialami oleh sebagian bangsa kita, bahkan kemiskinan mutlak. Pertumbuhan secara makro diakui, namun secara mikro masih dipertanyakan. Kesenjagan-kesenjangan tetap ada; mereka yang tidak berdaya tetap tidak berdaya, sebuah kenyataan yang tidak bisa ditutupi.
  2. Ketidakadilan
    Jurang yang mengangga antara yang makro dan yang mikro, antara yang berpunya dengan yang tidak berpunya oleh ketidakadilan. Ketidakadilan di dalam bidang hukum, misalnya masih sangat jelas terlihat hampir di berbagai aspek kehidupan. Ada sebuah sebutan yang populer; 'tajam ke bawah, tumpul ke atas' sangat dikenal sekarang ini untuk menggambarkan betapa hukum telah dipergunakan secara keliru guna menumpuk kekuasaan oleh mereka yang kuat. Ketidakadilan dalam bidang hukum kebanyakkan dirasakan masyarakat lemah, yang cenderung tidak berdaya karena kelemahan yang ada. Jika kita mengalami ketidakadilan, Allah tidak mengecewakan kita. Dalam Alkitab kita tidak pernah menemukan sekeping pun bukti bahwa Tuhan pernah mengkhianati dan iblis bisa menyiksa kita; tetapi Allah tidak pernah mengkhianati maupun menyiksa kita.
  3. Kerusakan Lingkungan
    Ini juga sebuah penyakit lama. Alam kita makin dibebani oleh berbagai beban sebagai ulah manusia yang hidup di dalamnya. Kelihatannya alam kita tidak sanggup lagi memikul beban yang sangat berat. Banyak ahli sekarang menjelajahi ruang angkasa tanpa batas ini mencari planet-planet yang mirip bumi. Kalau kita menyadari hal ini, maka marilah kita menjaga planet biru yang indah ini. Pada sekitar tahun 1970, Barbara Ward menulis satu buku berjudul: Only One Earth; artinya kita diingatkan, bahwa bumi inilah yang dianugerahkan Tuhan kepada kita; maka marilah kita menjaganya dengan tidak mengotorinya dan berbagai kealpaan lainnya.
  4. Radikalisme
    Sesungguhnya adalah akibat atau respons negatif terhadap segala sesuatu yang dikemukakan di atas. Kemiskinan, ketidakadilan, kerusakkan lingkungan yang menimbulkan reaksi-reaksi yang sangat radikal, baik dalam skala kecil maupun skala besar; tanpa menutup mata bahwa radikalisme pun bisa timbul atas dasar ideolgi atau bahkan keyakinan agama, misalnya ISIS, peperangan, dan kekerasan lainnya.
    Kekerasan telah menjadi kanker busuk dalam kebudayaan kita. Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya radikalisme dengan begitu subur, seperti Faktor pemikiran yang menimbulkan produk sekularisme yang secara filosofi anti terhadap agama dan paham fundamentalisme. Faktor ekonomi, William Nock pengarang buku Perwajahan Dunia Baru mengatakan: Terorisme yang belakangan ini marak muncul merupakan reaksi dari kesenjangan ekonomi yang terjadi di dunia. Faktor politik, politik yang dijalankan adalah politik kotor, politik yang hanya berpihak pada pemilik modal, kekuatan-kekuatan asing, bahkan politik pembodohan rakyat, maka kondisi ini lambat laun akan melahirkan tindakan skeptis masyarakat. Akan mudah muncul kelompok-kelompok atas nama yang berbeda baik politik, agama ataupun sosial yang mudah saling menghancurkan satu sama lainnya. Faktor sosial, dalam gerakan agama sempalan, biasanya mereka lebih memilih menjadikan pandangan tokoh yang keras dan kritis terhadap pemerintah, karena mereka beranggapan, kelompok yang memiliki pandangan moderat telah terkooptasi dan bersekongkol dengan penguasa. Faktor psikologis, sangat terkait dengan pengalaman hidup individual seseorang. Pengalamannya dengan kepahitan hidupnya, lingkungannya, kegagalan dalam karir dan kerjanya, dapat saja mendorong sesorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dan anarkis. Faktor pendidikan, sekalipun pendidikan bukanlah faktor langsung yang dapat menyebabkan munculnya gerakan terorisme, akan tetapi dampak yang dihasilkan dari suatu pendidikan yang keliru juga sangat berbahaya.
  5. Penyakit
    Kemajuan teknologi dan informasi, membuat segala sesuatu memudahkan dan memanjakan, tetapi di sisi lain juga muncul berbagai pengumulan yang tidak kalah rumitnya tentang kesehatan. Hari ini yang ditakuti manusia bukan lagi virus HIV/AIDS, tetapi adalah virus Ebola yang mengancam seluruh umat manusia, khususnya saudara-saudara kita yang di Afrika Barat. Sementara itu ada banyak penyakit-penyakit terminal yang merenggut nyawa manusia setiap waktu. Kondisi ini diperburuk lagi dengan gaya dan pola hidup yang tidak mendukung untuk hidup sehat.
    Kesakitan dan kesedihan yang tidak terlukiskan adalah hal yang normal, bahkan bagi orang Kristen pun; sungguh Petrus memberitahu kita, Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu (1 Ptr 4:12). Ketakutan kita, kemarahan kita, keraguan kita, dan segala sesuatu yang kita rasakan dalam kesakitan kita tidak membuat Allah gugup atau nyaman terhadap kita. Allah masih tetap mengasihi kita dan Ia tetap berpihak kepada kita. Jika kita berada dalam lubang keputusasaan, kita harus memandang ke sekeliling dan melihat bahwa hanya Allah yang dapat mengeluarkan kita.

Namun sebenarnya harapan kedamaian mudah menjadi hilang, apalagi ketika kita hidup di dalam dunia yang tidak sempurna ini. Ketika Yesaya menuliskan ayat-ayat ini, bangsa Yehuda sedang dihukum Tuhan, karena mereka tidak taat. Mereka sedang hidup dalam kondisi yang suram: terhimpit; rendah dan berada dalam kegelapan; hidup dalam tekanan dan kekerasan; hidup dalam penjajahan dan penumpahan darah. Bagaimana dengan anda? Apakah anda juga sedang dalam keadaan terhimpit, terjepit, suram, dan gelap?

Orang percaya seharusnya memiliki pengharapan yang besar. Mengapa? Karena kita memiliki Tuhan sang Pembebas yang akan memberi kedamaian bagi kita.

Ia adalah Allah yang membimbing. Harapan menjadi hilang kalau kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan dan tidak mengerti akan jawaban pergumulan kita. Bagi banyak orang, kata bimbingan dan konseling memberi kesan bahwa kita orang yang bermasalah. Padahal sebenarnya setiap saat Allah rindu untuk memberi tahu hal-hal penting yang kita butuhkan. Saat ini pun Allah sedang berbicara kepada kita, untuk menegur, menguatkan, mendorong, mengasihi, dan memberi bimbingan. Hanya, sering suara Tuhan itu terdengar begitu lembut dan halus sampai kita sulit untuk mendengarnya. Allah membimbing dengan berbagai macam cara dan kita harus dengar-dengaran, serta belajar untuk sensitif akan tuntunan Tuhan.

Ia adalah Allah yang berkuasa. Harapan menjadi hilang ketika kita merasa tidak ada yang bisa memenuhi kebutuhan kita, ataupun melepaskan kita dari pergumulan yang memberatkan hati. Kita perlu mengimani bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang hidup dan berkuasa. Yesus dalam kehidupan-Nya dahulu memperlihatkan kuasa Allah tersebut dan kita bisa bergantung pada-Nya akan kebutuhan-kebutuhan kita. Pada pihak kita, haruslah belajar untuk mempercayai, meminta, dan berserah kepada-Nya.

Ia adalah Allah yang memberi pengharapan. Harapan menjadi hilang jika kita tidak memiliki tujuan yang kekal. Kita akan berjalan dan beraktivitas, tanpa tahu untuk apa kita melakukan hal tersebut. Jika kita menikmati kehidupan kita, mungkin ketiadaan tujuan ini tidak menjadi masalah. Namun dalam jangka panjang tetap akan muncul ketidakpuasan dan kegelisahan. Sementara bagi yang gagal dalam kehidupan, sepertinya hidup menjadi tidak menarik, karena tidak bisa memberikan apa yang kita butuhkan. Oleh karena itu, memiliki tujuan-tujuan yang Ilahi dan jadikan Allah sebagai satu-satunya sumber sandaran kita.

Ia adalah Allah yang memberi damai. Harapan menjadi hilang ketika hidup kita dalam kondisi yang tidak memberi damai. Ada kekuatiran, ada rasa bersalah yang palsu, ada konflik dengan sesama, ada keputusasaan karena kesulitan hidup, ada kebencian karena ketidakpuasan dalam hidup, dan ada kegalauan karena ketidakpastian hidup. Bagaimana kita mengalami dan menikmati kedamaian yang sejati dari Allah? Kita harus berdamai dengan Allah, harus berdamai dengan diri sendiri, dan juga harus berdamai dengan sesama.

Biarlah Allah memperoleh penghormatan atas pekerjaan ini: Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi. Kehendak baik Allah dinyatakan dengan mengirim Sang Mesias, sehingga sangat layak pujian itu dikembalikan kepada-Nya. Lagi pula, malaikat-malaikat yang berada di sorga yang mahatinggi tidak ingin merampas kemuliaan ini bagi mereka sendiri, mereka merayakan hal ini bagi kemuliaan-Nya (Why. 5:11-12). Kemuliaan bagi Allah, yang telah merancang kesukaan ini dalam kebaikan dan kasih-Nya, dan yang dalam kebijaksanaan-Nya telah merancang sedemikian rupa sehingga satu atribut ilahi tidak boleh dimuliakan dengan mengorbankan atribut ilahi yang lain, sebaliknya, kehormatan semua atribut ilahi sama-sama tetap dijaga dan dimuliakan. Semua karya Allah lainnya adalah bagi kemuliaan-Nya, tetapi penebusan dunia ini adalah bagi kemuliaan-Nya di tempat yang mahatinggi.

Biarlah manusia memperoleh sukacita ini: damai sejahtera di bumi, hendaklah baik bagi manusia (KJV). Kehendak baik Allah dalam mengirim Sang Mesias membawa serta damai sejahtera di dunia bawah ini, mematahkan perseteruan yang ditimbulkan dosa antara Allah dan manusia, dan menetapkan kembali hubungan damai di antara keduanya. Jika Allah berdamai dengan kita, semua damai sejahtera akan mengalir dari situ: hati nurani yang damai, damai dengan para malaikat, damai di antara bangsa Yahudi dan bangsa bukan Yahudi. Damai di sini adalah bagi semua kebaikan, semua yang baik yang mengalir dari penjelmaan Kristus. Semua kebaikan yang kita miliki atau yang kita harapkan, semuanya bersumber pada kehendak baik atau perkenaan Allah. Jika kita mendapatkan penghiburan dari semua kebaikan itu, maka Dia harus memperoleh kemuliaan atas semuanya itu. Dan oleh karena itu juga, tidak akan ada damai sejahtera dan kebaikan dapat diperoleh melalui cara yang tidak sejalan dengan kemuliaan Allah, tidak melalui jalan dosa atau jalan lain apa pun, selain melalui seorang Pengantara. Inilah damai yang dinyatakan dengan penuh kekhidmatan. Karena itu, siapa pun yang mau, biarlah mereka datang dan menerima manfaat dari perdamaian yang ditawarkan Allah. Itulah damai sejahtera di bumi bagi manusia yang berkehendak baik, bagi manusia yang memiliki kehendak baik kepada Allah dan yang bersedia diperdamaikan, atau bagi manusia yang kepadanya Allah berkenan atau menyatakan kehendak baik-Nya, karena belas kasih-Nya. Lihatlah betapa tergugahnya perasaan para malaikat bagi manusia, akan kesejahteraan dan kebahagiaannya. Betapa senangnya para malaikat atas penjelmaan Anak Allah, walaupun Ia tidak mengambil rupa mereka. Jadi, tidakkah hati kita akan lebih tergugah lagi karena itu? Ini adalah pernyataan kesetiaan, yang disaksikan dan dibenarkan oleh kawanan malaikat yang tak terhitung jumlahnya, dan layak untuk diterima dengan baik, yaitu bahwa kehendak baik atau perkenan Allah kepada manusia adalah kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi.

Kelahiran Yesus Kristus, Sang Raja Damai, ke dalam dunia menyatakan bahwa kerajaan syalom itu pun hadir di dunia ini. Allah membentuk umat-Nya menjadi umat pembawa damai.

Dunia saat ini sangat membutuhkan damai sejahtera. Permasalahan dan pergumulan datang silih berganti dalam kehidupan manusia. Banyak orang menjadi putus asa dan tak berpengharapan. Umat Allah pun mengalami keputusasaan dan tidak berpengharapan lagi ketika penghukuman atas mereka diberitakan melalui Nabi Yesaya. Umat Allah dihukum karena kedegilan hati mereka yang tidak mau taat kepada hukum Tuhan. Namun, di tengah kondisi yang demikian, Allah menjanjikan kedatangan Mesias, Sang Juruselamat yang juga adalah Raja Damai. Ia akan membawa kedamaian bagi umat-Nya, bukan hanya kedamaian secara fisik, tetapi juga kedamaian dalam hubungan manusia dengan Allah. Umat Allah harus menyampaikan berita damai dan pengampunan itu kepada orang lain.

Orang percaya adalah agen damai sejahtera Allah. Ke mana pun kita pergi, apa pun yang kita perbuat, serta apa pun yang kita katakan, kita membawa damai sejahtera Allah. Kehadiran kita mungkin tidak menyelesaikan permasalahan yang ada, tetapi damai sejahtera yang dari Allah memampukan kita untuk memberi semangat dan pengharapan bagi mereka yang sedang putus asa. Apakah kehadiran kita sudah membawa damai bagi orang-orang di sekeliling kita? Hari Natal, saat kita merayakan hari kelahiran Raja Damai itu, merupakan saat yang tepat bagi kita untuk mengevaluasi diri. Natal adalah saat yang tepat bagi kita untuk mulai menyebarkan damai Allah bagi dunia ini. Merry Christmas. (Pdt. William Herjinto)

Kepustakaan:

  1. Piper, John & Justin Taylor, Penderitaan dan Kedaulatan Allah, Surabaya: Penerbit Momentum, 2012.
  2. Ngelow, Zakaria J., Teologi Bencana, Makasar: Yayasan Oase Intim, 2006.
  3. Carson, D.A., Kasih di Tempat-Tempat yang Sulit, Surabaya: Penerbit Momentum, 2007.
  4. Wells, David F., Allah di Lahan Terbengkalai, Surabaya: Penerbit Momentum, 2005.
  5. Henry Matthew, Injil Lukas 1-12, Surabaya: Penerbit Momentum, 2009.