Kesederhanaan Hati

Written by administrator on . Posted in Renungan

Kata kesederhanaan, dalam bahasa Inggris simplicity, yang dalam bahasa Yunani: haplotes, berarti tunggal, satu (single), lawan kata dari mendua atau double. Tidak mendua hati artinya satu hati saja. Matius mengatakan tidak bisa melayani dua tuan, Mamon dan Tuhan, ini juga sama artinya tidak mendua hati, hanya satu hati yaitu kepada Tuhan saja. Kita sebagai pelayan Tuhan, hanya melayani Tuhan, bukan melayani diri sendiri atau orang lain, walaupun efek dari pelayanan kita kepada Tuhan akhirnya menjadi berkat bagi orang lain. Para pelayan Tuhan tidak hanya berfokus kepada Tuhan, sang Tuan yang dilayani, kita juga perlu melihat ke dalam hati, apakah di hadapan Tuhan, saya yang adalah pelayan Tuhan sudah sungguh-sungguh memiliki kesederhanaan hati.

Daud, sang Pemazmur memberikan kita gambaran kesederhanaan hatinya. Ketika dia menghadapi banyak tantangan dalam perjalanan kepemimpinannya baik sebelum menjadi raja atau pun sesudahnya. Ada banyak kesulitan, serangan, pergumulan dan masalah yang harus dijalani. Dia pernah menjadi sasaran iri hati dan target pembunuhan dari raja Saul. Dia pernah menjadi target yang akan digulingkan dari kedudukannya, oleh anaknya sendiri. Dia pernah jatuh dalam dosa yang mendalam ketika berzinah dengan Batsyeba. Namun, Alkitab memberikan satu gambaran tentang siapa Daud. Dia adalah orang yang berkenan kepada Tuhan. Bukan karena dia raja yang sukses atau yang gagal, suci atau berdosa. Tetapi dia adalah raja yang memiliki fokus kepada Tuhan, dia mengenal Allahnya dan mengenal dirinya. Inilah bentuk kesederhanaan hati seorang Daud sang Pemazmur.

Ketika dalam kesuksesan dia tidak berani melangkahi Tuhan dan ketika dia ditegur dosanya oleh Tuhan, melalui nabi Natan, dia datang ke hadapan Tuhan dengan berpuasa, memohon ampun dan belas kasihan Tuhan. Dia tidak membela dirinya atau pun menyalahkan orang di sekelilingnya. Oleh sebab itu, Alkitab mengatakan Daud berkenan di hadapan Tuhan.

Mazmur 17 menggambarkan sikap Daud ketika dia bergumul dengan kondisi penuh tantangan dan kesulitan. Mengapa begitu banyak musuh yang mau menjatuhkan dia, demikian pikirnya. Dia menjadi tertekan. Dia merasa gelisah. Dia datang kepada Tuhan melalui doa. Isi Mazmur ini adalah doa yang dipanjatkan di tengah kesesakan.

Pemazmur dengan jujur mengatakan bahwa Jika Tuhan menelusuri hidupnya, perbuatannya, tutur katanya, maka di situ tidak ada penyimpangan, tidak ada yang melawan Tuhan. Dia hidup sesuai apa yang Tuhan perintahkan. Dia hidup melakukan tugasnya sesuai petunjuk yang Tuhan berikan. Apakah pemazmur menyombongkan diri? Tentu saya tidak, pemazmur sedang melihat secara jujur. Di sini terletak kesederhanaan hatinya, dia memaparkan apa yang menjadi bagian yang dia tahu. Dia membandingkan ketaatan kepada Tuhan dan pelanggaran yang dilakukannya terhadap ajaran Tuhan. Dia dengan tulus menyatakan saya sungguh-sungguh berusaha hidup tulus di hadapan Tuhan dan manusia. Ungkapan, “Langkahku mengikuti jejak-Mu” artinya pemazmur mau belajar dan taat, ikut jejak Tuhan. Arah perjalanan hidupnya, seluruh perbuatannya, adalah seperti yang Tuhan arahkan.

Rekan-rekan sepelayanan, mari kita merenungkan kesederhanaan hati kita. Apakah selama di dalam perjalanan kita sebagai anak-anak Tuhan dan sebagai pelayan-pelayan Tuhan, kita sungguh-sungguh jujur dan tulus di hadapan Tuhan? Apakah saya sudah melayani dengan ketulusan hanya kepada Tuhan dan bukan diri atau orang lain? Apakah saya sungguh-sungguh terbuka di hadapan Allah yang saya layani? Adakah saya masih secara sembunyi, telah memegahkan diri, merasa diri lebih penting, merasa diri lebih bisa? Adakah saya mendua hati dan mencuri kemuliaan Tuhan?

Tidak ada kata terlambat bagi kita untuk diperbaharui oleh Tuhan. Mari kita mengevaluasi diri kita sendiri, dengan jujur di hadapan Tuhan. Apakah selama kita mengajar jemaat kita malah tidak menaati apa yang sudah kita ajarkan? Kita tidak memberikan contoh sesuai firman Tuhan? Atau sebaliknya, kita sudah berjuang dan dengan hati yang tulus, kita telah menjadi teladan dalam ketaatan kepada Tuhan, dan kita memiliki kesederhanaan hati di hadapan Tuhan? Inilah saatnya kita terus dibentuk oleh Tuhan. Semakin mengenal Tuhan, semakin kita akan takluk dan tunduk, dan semakin kita bertumbuh untuk menjadi berkat bagi jemaat Tuhan.

Selamat melatih diri sebagai pelayan yang memiliki kesederhanaan hati.

By: Pdt. Seniman Lo