It’s Christmas!

Written by Belinda on . Posted in Renungan

Menjelang Perayaan Natal

Perayaan Natal sudah bukan hanya diramaikan oleh kalangan gereja (baca: Orang Kristen) di dunia ini. Kalangan bisnis menggunakan momen ini dan menciptakan banyak warna kegiatan dan tradisi dalam merayakan natal. Setiap tahun kita akan melihat bagaimana dunia merayakan tradisi “Natal” ini dengan begitu meriah dengan hiasan, dekorasi, dan acara-acara yang menarik khalayak ramai. Saking meriahnya, persiapan-persiapan dilakukan begitu spesifik dan detail di toko-toko, mal-mal besar, dan tempat umum lainnya. Gereja mungkin tidak semeriah dan seawal itu dalam mempersiapkan aksesoris dalam rangka merayakan Natal.

Namun menjadi satu pertanyaan dasar adalah apa yang dirayakan? Hanya sebuah perayaan hari besar keagamaan dari agama Kristen, atau hanya sebuah momen untuk mendapatkan keuntungan dalam suasana ini? Apa istimewanya perayaan natal bagi orang secara umum (umat manusia)? Apa makna perayaan natal bagi kita orang-orang pilihan Allah?

Tak Pernah DitinggalkanNya Sendiri

Written by Belinda on . Posted in Renungan

(Roma 8:26-28)

Membaca bagian nas ini mengingatkan saya akan sebuah pengalaman keluarga kami berkenaan tantangan dan kesulitan yang kami alami beberapa tahun lalu. Sewaktu itu saya dan keluarga pada akhirnya memutuskan untuk kembali sementara waktu ke kampung halaman kami di Kupang. Karena kondisi ibu yang sakit berat serta tidak ada anggota keluarga yang memerhatikan dan merawatnya. Seusai beliau sembuh kami pun masih harus tetap tinggal mengingat pergumulan yang dihadapi keluarga semakin berat sepeninggal almarhum ayah ke rumah Bapa di Sorga beberapa tahun sebelumnya. Dalam situasi yang demikian berat dimana, masalah demi masalah harus kami hadapi. Saya dan keluarga dikuatkan kembali untuk dapat menghadapi tantangan dan pergumulan yang ada dengan terus belajar bersandar kepada Tuhan Yesus Kristus. Terbukti, Allah kembali memimpin kami sekeluarga melalui kesulitan yang ada dengan kasih dan kuasa-Nya. Hingga kami dimampukan melaluinya.

Dipanggil untuk Melayani

Written by Belinda on . Posted in Renungan

(Kisah Para Rasul 6:1-7)

Kisah Para Rasul 6:1-7 menggambarkan situasi yang terjadi pada gereja mula-mula. Kedua belas rasul sangat kewalahan dalam melayani jemaat pada saat itu, mereka bersaksi kepada berbagai lapisan masyarakat, masyarakat berbahasa Yunani (Hellenist) maupun Ibrani (6:1). Dengan pelayanan mereka jumlah orang percaya pun semakin bertambah. Pengalaman hidup bersama Yesus memampukan mereka untuk mengajarkan kebenaran (pengajaran yang didapatkan langsung dari Tuhan Yesus), dan memampukan mereka untuk menginterpretasikan secara tepat fakta-fakta tentang Yesus. Doa dan pelayanan Firman menjadi prioritas utama kedua belas rasul ini dan mereka tidak ingin fokus pelayanannya "diganggu" dengan pelayanan sehari-hari lainnya serta jangan sampai ada pelayanan yang terabaikan.

Pertolongan dalam Kelemahan

Written by Belinda on . Posted in Renungan

(Ibrani 4:14-16)

“Tolonglah saya!” adalah permintaan mendesak! Seruan demikian berulangkali muncul di dalam surat, telpon, pertemuan dengan saya akhit-akhir ini. Mengapa minta tolong? Karena ada kebutuhan mendesak….materi, pendapat, bantuan, jalan keluar dan sebagainya.

Kita juga pernah memohon pertolongan kepada orang lain. Mengapa? Alasannya adalah: “kelemahan” (ay 14). “Kelemahan” dalam Firman Tuhan ini merupakan kelemahan fisik atau mental, termasuk sakit-penyakit, masalah moral, penuaan dan sebagainya. Kelemahan membuat kita tidak berdaya, tiada penyelesaian dan tanpa jalan keluar. Kelemahan berasal dari diri sendiri, orang lain dan lingkungan, atau akibat dari percobaan. “Kelemahan-kelemahan kita” membuktikan kita semua lemah. Ketika lemah, mudah terjerumus dalam pilihan yang keliru. Pasien penyakit akut memilih mati meskipun dia tahu harus memilih hidup, pilihannya keliru ketika dalam keadaan lemah. Yang bersalah terus bersalah, memilih jalan sesat dan gelap yang tidak benar hanya oleh karena mata rohani kabur dan tidak mampu memilih yang benar.

Hamba yang Baik dan Setia

Written by Belinda on . Posted in Renungan

(Matius 25:14-30)

Dunia melihat satu pekerjaan itu sukses atau tidak itu seringkali diukur/ditentukan oleh hasil. Seringkali cara pandang ini juga kita bawa dalam menilai sebuah pelayanan. Suksesnya sebuah pelayanan ditentukan oleh hasilnya berapa? Memang jumlah itu penting… tapi keberhasilan kita di hadapan Tuhan bukan hanya dihitung dari hasil/berapa jiwa yang kita bawa.

Tuhan Yesus mempunyai ukuran lain dalam menilai suatu pekerjaan. Dalam cerita perumpamaan talenta ini Ia menceritakan ada 3 pegawai yang diberi modal masing-masing oleh bosnya untuk dikelola dan dikembangkan. Masing-masing diberi menurut kesanggupannya. Pegawai pertama mendapat 5 talenta, ia mengelolanya dan mendapat laba 5 talenta. Pegawai kedua mendapat dua talenta, kemudian menghasilkan 2 talenta. Pegawai ke-3 mendapat 1 talenta namun modal itu tidak dikelola sehingga tidak menghasilkan apa-apa. Pada hari pertangungjawaban, Bos memanggil setiap pegawainya, kepada yang ke-1 dan ke-2 si Bos berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu hai hamba yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab yang lebih besar.” Tetapi karyawan ke-3 mendapat amarah “hai hamba yang jahat dan malas…”