Merenungkan Kembali Makna Natal

Written by administrator on . Posted in Renungan

Natal telah tiba. Natal telah tiba. Hadiah. Hadiah. Hadiah. Acara yang bagus. Meriah suasananya. Natal telah tiba. Dengungan kata dan kalimat ini mengantar kita kembali pada satu titik perenungan bagi setiap orang percaya. Perayaan Natal tahunan yang dihiasi dengan berbagai kesibukan, aneka acara yang menarik, asesoris natal yang muncul bukan saja di gereja, di rumah bahkan di pusat-pusat perbelanjaan, bahkan di kantor-kantor. Apakah hanya sebuah tradisi dan kegiatan tahunan yang mendatangkan keuntungan baik materi maupun non-materi? Perayaan umat Kristiani yang memang sudah biasa terjadi di akhir tahun. Sebenarnya apa makna natal bagi setiap kita sebagai orang percaya? Adakah hanya sebatas sebuah perayaan keagamaan saja? Hanya sebuah momen yang meriah? Hanya waktu libur yang lebih panjang di akhir tahun? Atau adakah makna lainnya?

Kesederhanaan Hati

Written by administrator on . Posted in Renungan

Kata kesederhanaan, dalam bahasa Inggris simplicity, yang dalam bahasa Yunani: haplotes, berarti tunggal, satu (single), lawan kata dari mendua atau double. Tidak mendua hati artinya satu hati saja. Matius mengatakan tidak bisa melayani dua tuan, Mamon dan Tuhan, ini juga sama artinya tidak mendua hati, hanya satu hati yaitu kepada Tuhan saja. Kita sebagai pelayan Tuhan, hanya melayani Tuhan, bukan melayani diri sendiri atau orang lain, walaupun efek dari pelayanan kita kepada Tuhan akhirnya menjadi berkat bagi orang lain. Para pelayan Tuhan tidak hanya berfokus kepada Tuhan, sang Tuan yang dilayani, kita juga perlu melihat ke dalam hati, apakah di hadapan Tuhan, saya yang adalah pelayan Tuhan sudah sungguh-sungguh memiliki kesederhanaan hati.

Bhinneka Tunggal Ika

Written by administrator on . Posted in Renungan

Kalimat Bhinneka Tunggal Ika bisa kita temukan dalam lambang negara Indonesia, burung Garuda. Kalimat ini diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, pujangga besar pada zaman Majapahit. Zaman kepemimpinan Raja Hayam Wuruk (abad ke-14) dan Mahapati Gajahmada adalah zaman keemasan, dan muncul banyak pujangga terkenal, seperti Prapanca dan Walmiki. Bhinneka artinya bermacam-macam/beraneka, Tunggal artinya satu, dan Ika artinya itu. Jadi artinya adalah berbagai macam atau beraneka ragam tetapi satu jua. Semboyan ini kemudian menjadi pemersatu bagi negara kita yang terdiri dari beraneka ragam suku bangsa, bahasa, dan agama. Keragaman ini bukan untuk memecah belah tetapi justru menjadi satu, saling melengkapi, tidak ada yang lebih tinggi, lebih hebat, lebih dominan. Semuanya memiliki ciri khas masing-masing, dan jika dipersatukan akan menjadi seperti kepingan puzzle yang utuh tersusun rapi dan nampaklah sebuah gambar besar yaitu bangsa Indonesia.

Membangun Integritas Hamba Tuhan dalam Pelayanan

Written by administrator on . Posted in Renungan

1. Asal Pelayanan: Allah (1 Timotius 1:12; 1 Tesalonika 2:4)

Suatu pelayanan yang murni harus berasal dari Allah, bukan dari manusia (2 Korintus 5:18; 1 Timotius 1:12). Allah menyerahkan pelayanan hanya kepada orang-orang yang telah menjadi milik-Nya, dalam arti sudah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Kalau ada orang yang belum menjadi milik-Nya yang terlibat dalam pelayanan, maka pelayananya tidak akan diterima Allah (Yesaya 64:6). Jadi, suatu pelayanan terjadi atas inisiatif Allah. Oleh karena itu, seorang pelayan pertama-tama bertanggung jawab penuh kepada Allah. Dengan kata lain, pelayanan bukan untuk menyenangkan manusia tetapi untuk menyenangkan Allah (1 Tesalonika 2:4; Galatia 1:10).