Pertolongan dalam Kelemahan

Written by Belinda on . Posted in Renungan

(Ibrani 4:14-16)

“Tolonglah saya!” adalah permintaan mendesak! Seruan demikian berulangkali muncul di dalam surat, telpon, pertemuan dengan saya akhit-akhir ini. Mengapa minta tolong? Karena ada kebutuhan mendesak….materi, pendapat, bantuan, jalan keluar dan sebagainya.

Kita juga pernah memohon pertolongan kepada orang lain. Mengapa? Alasannya adalah: “kelemahan” (ay 14). “Kelemahan” dalam Firman Tuhan ini merupakan kelemahan fisik atau mental, termasuk sakit-penyakit, masalah moral, penuaan dan sebagainya. Kelemahan membuat kita tidak berdaya, tiada penyelesaian dan tanpa jalan keluar. Kelemahan berasal dari diri sendiri, orang lain dan lingkungan, atau akibat dari percobaan. “Kelemahan-kelemahan kita” membuktikan kita semua lemah. Ketika lemah, mudah terjerumus dalam pilihan yang keliru. Pasien penyakit akut memilih mati meskipun dia tahu harus memilih hidup, pilihannya keliru ketika dalam keadaan lemah. Yang bersalah terus bersalah, memilih jalan sesat dan gelap yang tidak benar hanya oleh karena mata rohani kabur dan tidak mampu memilih yang benar.

Yesus Kristus, Imam Besar Agung kita, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai (ay 15). Yesus juga pernah menghadapi kondisi yang serba sulit, Dia juga harus memilih dalam kesulitan, maju-mundur salah, kanan-kiri bahaya. Terlihat di mana-mana, pilihan Yesus cermat. Dia berkata, berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah! Juga berkata, keselamatan manusia lebih penting daripada ketentuan Sabat; juga menunjukkan bahwa, nilai manusia lebih berharga dari 2000 ekor babi! Dan berkata, barangsiapa tidak berdosa, bolehlah dia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan perzinahan. Yesus tidak berdosa atas semua ini. Prinsip ini jelas, namun susah dipilih ketika situasi keruh dan kacau. “Kelemahan” tidak boleh dijadikan alasan kita tergoda berdosa. Yesus dicobai, namun tidak berdosa. Kita lemah, juga tidak boleh memilih berdosa.

Bagaimana tetap tidak berdosa? Bukan mengandalkan diri sendiri, tapi mengandalkan Dia yang “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” dan yang “telah dicobai” namun berkemenangan atas semua! Kita menyanyi: “Kaulah Tuhanku, yang tuntun jalanku (jalan benar)”, apakah kita masih bisa datang kepada-Nya meskipun langkah kita sesat? Atau terjerumus dalam kesalahan? Jawabannya adalah “marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (ay 16) Kita bisa datang dengan penuh keberanian, karena Yesus pernah menghadapi kelemahan dan pilihan sulit yang kita hadapi. Kita dapat menerima rahmat, kasih dan pertolongan-Nya karena Dia berkuasa melepaskan kita dari pencobaan, menyelamatkan kita dari kesusahan dan membukakan jalan!

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13) Puji syukur kepada Tuhan, yang di dalam-Nya kita peroleh contoh, pertolongan dan jaminan!

Ev. Maria Woo