Taat

Written by administrator on . Posted in Renungan

Mana lebih sulit, tidak melakukan apa yang bisa dilakukan, atau berjuang melakukan apa yang tidak bisa dilakukan? Jawabannya adalah tidak melakukan apa yang bisa dilakukan. Hanya ada satu alasan mengapa kita tidak melakukan apa yang bisa dilakukan, yaitu ketaatan. Itulah inti cobaan yang Yesus hadapi di padang gurun, yaitu tidak melakukan apa yang bisa Dia lakukan, sebab Dia adalah Allah, pada saat yang sama, Dia juga seorang manusia sejati. Dia tidak melakukan apa yang bisa dilakukan karena taat kepada Bapa yang mengutus-Nya ke dunia. Sebagai wujud ketaatan, Yesus menjawab setiap cobaan dari iblis dengan kitab suci, sebab kitab suci adalah lambang otoritas Allah.

Setelah lulus dari cobaan ini, maka Yesus baru bisa menjalani tugas-Nya di dunia. Setiap tahap hidup dan pelayanan-Nya, Dia tetap berhadapan dengan cobaan yang sama. Saat dimusuhi, ditantang, berdoa di Getsemani, ditangkap, dan terakhir disalibkan, Dia menunjukkan ketaatan-Nya secara sempurna kepada kehendak Bapa dengan tidak melakukan apa yang bisa Dia lakukan ("Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?"). Dan genaplah karya keselamatan buat umat manusia.

It’s Christmas!

Written by Belinda on . Posted in Renungan

Menjelang Perayaan Natal

Perayaan Natal sudah bukan hanya diramaikan oleh kalangan gereja (baca: Orang Kristen) di dunia ini. Kalangan bisnis menggunakan momen ini dan menciptakan banyak warna kegiatan dan tradisi dalam merayakan natal. Setiap tahun kita akan melihat bagaimana dunia merayakan tradisi “Natal” ini dengan begitu meriah dengan hiasan, dekorasi, dan acara-acara yang menarik khalayak ramai. Saking meriahnya, persiapan-persiapan dilakukan begitu spesifik dan detail di toko-toko, mal-mal besar, dan tempat umum lainnya. Gereja mungkin tidak semeriah dan seawal itu dalam mempersiapkan aksesoris dalam rangka merayakan Natal.

Namun menjadi satu pertanyaan dasar adalah apa yang dirayakan? Hanya sebuah perayaan hari besar keagamaan dari agama Kristen, atau hanya sebuah momen untuk mendapatkan keuntungan dalam suasana ini? Apa istimewanya perayaan natal bagi orang secara umum (umat manusia)? Apa makna perayaan natal bagi kita orang-orang pilihan Allah?

Mulia Bagi Allah, Damai Bagi Manusia

Written by Belinda on . Posted in Renungan

"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya"
(Lukas 2:14)

"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai."
(Yesaya 9:6)

Hari-hari ini, ada pertanyaan yang muncul dalam perjalanan hidup manusia, masih adakah peace atau dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan lebih lengkap dan bagus adalah damai sejahtera? Bukan hanya damai tapi juga harus ada sejahtera. Pertanyaan ini muncul dan kita tidak bisa menyalahkan orang yang bertanya pertanyaan ini. Dunia dan alam ini sudah tidak menjadi nyaman untuk didiami.

Tak Pernah DitinggalkanNya Sendiri

Written by Belinda on . Posted in Renungan

(Roma 8:26-28)

Membaca bagian nas ini mengingatkan saya akan sebuah pengalaman keluarga kami berkenaan tantangan dan kesulitan yang kami alami beberapa tahun lalu. Sewaktu itu saya dan keluarga pada akhirnya memutuskan untuk kembali sementara waktu ke kampung halaman kami di Kupang. Karena kondisi ibu yang sakit berat serta tidak ada anggota keluarga yang memerhatikan dan merawatnya. Seusai beliau sembuh kami pun masih harus tetap tinggal mengingat pergumulan yang dihadapi keluarga semakin berat sepeninggal almarhum ayah ke rumah Bapa di Sorga beberapa tahun sebelumnya. Dalam situasi yang demikian berat dimana, masalah demi masalah harus kami hadapi. Saya dan keluarga dikuatkan kembali untuk dapat menghadapi tantangan dan pergumulan yang ada dengan terus belajar bersandar kepada Tuhan Yesus Kristus. Terbukti, Allah kembali memimpin kami sekeluarga melalui kesulitan yang ada dengan kasih dan kuasa-Nya. Hingga kami dimampukan melaluinya.

Dipanggil untuk Melayani

Written by Belinda on . Posted in Renungan

(Kisah Para Rasul 6:1-7)

Kisah Para Rasul 6:1-7 menggambarkan situasi yang terjadi pada gereja mula-mula. Kedua belas rasul sangat kewalahan dalam melayani jemaat pada saat itu, mereka bersaksi kepada berbagai lapisan masyarakat, masyarakat berbahasa Yunani (Hellenist) maupun Ibrani (6:1). Dengan pelayanan mereka jumlah orang percaya pun semakin bertambah. Pengalaman hidup bersama Yesus memampukan mereka untuk mengajarkan kebenaran (pengajaran yang didapatkan langsung dari Tuhan Yesus), dan memampukan mereka untuk menginterpretasikan secara tepat fakta-fakta tentang Yesus. Doa dan pelayanan Firman menjadi prioritas utama kedua belas rasul ini dan mereka tidak ingin fokus pelayanannya "diganggu" dengan pelayanan sehari-hari lainnya serta jangan sampai ada pelayanan yang terabaikan.